Pilih-Pilih Wakil Rakyat Di Pemilu Legislatif 2009
Melanjutkan posting sebelumnya, memilih wakil rakyat:
1. Mengaku tahu kalau dia tidak tahu, melainkan tempe, eh gak nyambung...
Pilih wakil rakyat yang memang kita tahu kalau dia mampu bukan yang menyatakan kalau dia tahu.
Kita tidak butuh pemimpin yang tahu tetapi kita harus menunggu dia untuk menerapkan pengetahuannya.
2. Wakil rakyat yang mau tapi malu
Nah loh, tipe kayak apa nih? Maksudnya mau berjuang keras ntuk kepentingan rakyat tapi malu untuk menghalalkan berbagai cara agar menang.
Untuk melihat calon yang begini cukup lihat dari kampanyenya, dia dah keluar banyak tenaga pikiran, pikiran, bahkan uang untuk kampanye tapi malu mengadakan acara hiburan panggung musik dengan penampil yang tidak layak tampil melainkan acara tanam seribu pohon bakau di pantai, membuat tempat sampah bersama kemudian dibagikan ke warga, mengadakan donor darah, dan bersih kampung. Kebayang tuh acara nggak populer abis kemungkinan masa yang hadir sedikit karena sudah banyak yang individualis tapi dia rela melakukan itu. Tetapi penulis sendiri kalau udah diberi cahaya untuk memimpin rakyat, insya Allah acara begitu yang akan dilakukan, kan pada dasarnya uang dan tenaga kita selama kampanye memang sudah direlakan untuk kepentingan rakyat jadi kalau nanti masa nya sedikit karena kampanye nggak ada panggung musik dan nggak menang pemilu, nggak masalah.
3. Sudah jadi tradisi kalau orang sudah nyaman duduk disuatu tempat pengennya duduk di situ lagi.
Calon wakil rakyat yang ssat ini masih menjadi wakil rakyat juga begitu ia ingin lagi.Tidak masalah memilih calon tipe yang suka duduk ini asal dia punya performa bagus selama bertugas dan tidak suka main klaim atas keberhasilannya. Melainkan yang rendah hati kalau kebijakan yang ia buat merupakan hasil bersama dan memang harus ia lakukan. Jangan sampai memilih calon tipe ini yang mengklaim semua berita baik berasal dari kebijakan dia seperti kasus harga BBM yang turun. Kalau penulis pribadi malu mengklaim begitu, turunnya BBM memang harus terjadi karena harga minyak dunia turun, memang kalau dia tidak setuju maka minyak tidak turun tetapi kita kan tidak lagi nonton bodor yang berbicara semaunya agar lucu. Namanya juga lelucon.
4.membela rakyat Indonesia dengan memberi sandang (baju kampanye) buatan konveksi Indonesia.
Eits jangan buru - buru dukung calon ini, dia pakai jas merk apa tuh? Kacamata apa tuh? Kalau cuma acara kampanye, penulis akan lebih dihargai kalau dia pakai batik aja daripada jas merk luar. Kan banyak tuh batik China murah harga bersaing ! EH kalau kayak gitu sama aja dong?Maksudnya batik produksi Indonesia ya!
5. Ibu-ibu lebih sensitif perasaannya sehingga tidak tega melihat penderitaan rakyat.
Pilih calon ini, ibu-ibu harus menuhin ruang sidang. Hidup ibu-ibu!
Masak sih begitu, iya memang dia suka masak. Apa Coba....
Lihat- cara dia dandan kayak pakai sentuhan salon nggak. Jangan pilih calon tipe ini, pilih calon yang bisa mendandani dirinya untuk berhadapan dengan rakyat. Mengunjungi korban banjir dengan dandanan berlebih, parfum import original, sepatu import, dan seperangkat perhiasan, ironis!
Sebagai tambahan pilih calon yang memiliki pasangan yang juga dapat berhubungan dengan rakyat. Kalau pasangannya aja dibiarkan hidup bermewah-mewah dan berpakaian tidak sesuai dg keadaan mana mungkin dia bisa menjadi wakil kita yang ok.